Akhirnya, pada akhir bulan itu. Tepatnya hari minggu
saat aku telah menyelesaikan OSPEK aku menyatakan perasaanku. Masih teringat
jelas kau tersipu malu saat aku menanyakan perasaanmu padaku, tapi aku yakin
kalau kau juga memang suka aku saat itu. Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku
benar-benar bahagia saat itu, hatiku telah benar-benar jatuh padamu dan tak
terlintas sedikitpun dibenakku bahwa aku akan kembali merasakan kepahitan lagi.
Kita menjalani LDR(Long Distance Relationship) sejak
awal. Aku menemuimu seminggu sekali sebisaku, weekend selalu ku tunggu dan
selalu menjadi prioritasku untuk bisa menemuimu walaupun dengan padatnya jadwal
kuliahku serta menggunungnya tugasku. Aku mencoba melakukan semuanya, melakukan
yang terbaik untukmu. Namun rasanya rindu ini selalu ada. Akhirnya “telfonan”
menjadi solusi sementara untuk saling bertukar rindu, walaupun memang kita
sudah seharian ngobrol via chat tapi rasanya selalu ada yang kurang jika tidak
mendengar suaramu. Walaupun dengan jadwal yang sepadat itu, tidak pernah
menghalangiku untuk selalu memperhatikanmu, bahkan setiap saat ketika kau
berkata kau rindu padaku aku selalu meninggalkan semua kegiatanku untuk pulang
menuju kos dan segera menelfonmu. Tapi kau jarang ada disaat aku rindu, kau
tidak memperdulikan rinduku yang kerap kali ku ucapkan. Sebagai pacar aku
selalu menyemangatimu sebisaku. Tetapi kadang disaat aku pulang larut malam dan
lelah dengan kegiatanku aku membutuhkan semangatmu, paling tidak senyum manis
darimu namun kau tak pernah ada saat itu dan aku masih bisa bersabar.
Hari demi hari kita lalui. Kita bukan manusia sempurna,
mulailah banyak hal yang membuat hubungan ini semakin terasa tidak sehat.
Kebiasaanmu yang masih selalu ingat dengan masa lalumu hingga hubunganmu
dengannya, membuatku semakin putus asa setiap harinya. Tapi satu, dua, tiga,
empat, lima, enam kali aku masih bisa bersabar, aku masih ingin berjuang demi
mimpi indahku pulang ke alamat yang sama di masa depan denganmu. Sampai
akhirnya perdebatan ini hampir menaungi kita setiap malam. Bahkan, terkadang
sampai aku menunggu kau menghubungiku namun kau tak menghubungiku, ternyata
sudah ada yang kau hubungi dan kau kabari. Aku masih bisa sabar kala itu, entah
kenapa aku berpikir hubungan ini masih bisa diperbaiki dengan lebih banyak lagi
perjuangan. Banyak orang bilang “Cinta itu tak kenal logika”. Memang benar,
waktu itu aku benar-benar sakit ketika aku tau kau tak lagi memprioritaskan
aku. Sosial mediamu selalu online, namun tak ada satu pesanpun darimu, bahkan
pesanku tak kunjung kau balas tetapi kau bisa bercakap panjang dengannya.
Hingga akhirnya aku bertanya mana yang lebih kau pilih aku atau dia, kau memang
lebih memilihku dengan semua janji-janjimu, namun entah kenapa selalu ada
alasan darimu. Maaf, memang tak seharusnya aku mempertanyakan itu.
Hari itu aku tidak bisa menerima semuanya, bahkan orang
terdekatku mengatakan lebih baik aku berpisah denganmu. Teman-temanku selalu
meyakinkan aku, kelak aku berhak dapat yang lebih baik darimu. “Buat apa
berjuang sendirian ? Sudah jelas dia masih belum lepas dari masa lalunya”
hingga “Dia bilang sayang ke kamu dikit aja langsung senang, bentar lagi juga
balik ke mantannya lagi” begitu kata teman-temanku. Kalimat itu seolah
menamparku dan merubah pola pikirku, menyadarkanku akan kehidupan yang
sebenarnya, untuk apa aku berjuang sendirian, aku sadar selama ini aku terlalu
berharap pada hubungan yang tidak sehat ini. Jika aku tidak terlalu berharap,
mungkin kita tidak sejauh ini.
Kau sendiri yang memintaku untuk jangan pergi, tapi kau sendiri yang berkata terima kasih untuk semuanya.
Kali ini aku sadar, aku masih punya banyak impian
yang bisa kukejar. Daripada aku bertahan pada wanita yang tidak pernah
menghargai perjuanganku, aku lebih merelakanmu pergi. Kali ini aku ikhlas.
Silahkan pergi sejauh yang kau mau, dengan siapapun yang kau suka, kau berhak
mendapat lelaki yang jauh lebih baik dariku, carilah kebahagiaanmu. Terima
kasih telah menemani beberapa bulan ini, kau tetap memiliki tempat di hatiku.
Namun jika kau ingin kembali padaku, maaf aku lebih memilih untuk tidak.
Berjuanglah bersamanya, kejar kebahagiaanmu.
Selamat tinggal, kamu yang dulu selalu aku perjuangkan. Kali ini aku mengikhlaskanmu untuk pergi.
Dariku
Lelaki yang dulu selalu memperjuangkanmu.
Ditulis Oleh : Krisna Adji S. ~ Tutorials, Game, Blogging, Information
Sobat sedang membaca artikel tentang Untukmu yang membiarkanku berjuang sendiri, kali ini ku ikhlaskan. Silahkan Pergi.. Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya. Saling menghargai kreatifitas sobat Blogger.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar