Minggu, 03 Januari 2016




Ingatkah kamu beberapa bulan yang lalu, ketika pertama kali kau mengenalku. Duniamu serasa hanya ada aku, mungkin itulah yang aku rasakan saat itu. Dari aku membuka mata hingga aku menutup mata, kau selalu menemani hariku. Menceritakan banyak hal, yang belum aku ketahui tentangmu. Dulu, kau tau hubunganku sedang memburuk saat itu. Bahkan rasanya untuk mengenal cinta lagi pun aku sudah muak saat itu. Namun, kau datang dan meyakinkanku bahwa dunia akan bahagia jika aku bersamamu. Kau tak hanya selalu mendengarkan setiap ceritaku, tapi kau juga selalu memberi semangat dan nasehat.

Akhirnya, pada akhir bulan itu. Tepatnya hari minggu saat aku telah menyelesaikan OSPEK aku menyatakan perasaanku. Masih teringat jelas kau tersipu malu saat aku menanyakan perasaanmu padaku, tapi aku yakin kalau kau juga memang suka aku saat itu. Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku benar-benar bahagia saat itu, hatiku telah benar-benar jatuh padamu dan tak terlintas sedikitpun dibenakku bahwa aku akan kembali merasakan kepahitan lagi.

Kita menjalani LDR(Long Distance Relationship) sejak awal. Aku menemuimu seminggu sekali sebisaku, weekend selalu ku tunggu dan selalu menjadi prioritasku untuk bisa menemuimu walaupun dengan padatnya jadwal kuliahku serta menggunungnya tugasku. Aku mencoba melakukan semuanya, melakukan yang terbaik untukmu. Namun rasanya rindu ini selalu ada. Akhirnya “telfonan” menjadi solusi sementara untuk saling bertukar rindu, walaupun memang kita sudah seharian ngobrol via chat tapi rasanya selalu ada yang kurang jika tidak mendengar suaramu. Walaupun dengan jadwal yang sepadat itu, tidak pernah menghalangiku untuk selalu memperhatikanmu, bahkan setiap saat ketika kau berkata kau rindu padaku aku selalu meninggalkan semua kegiatanku untuk pulang menuju kos dan segera menelfonmu. Tapi kau jarang ada disaat aku rindu, kau tidak memperdulikan rinduku yang kerap kali ku ucapkan. Sebagai pacar aku selalu menyemangatimu sebisaku. Tetapi kadang disaat aku pulang larut malam dan lelah dengan kegiatanku aku membutuhkan semangatmu, paling tidak senyum manis darimu namun kau tak pernah ada saat itu dan aku masih bisa bersabar.

Hari demi hari  kita lalui. Kita bukan manusia sempurna, mulailah banyak hal yang membuat hubungan ini semakin terasa tidak sehat. Kebiasaanmu yang masih selalu ingat dengan masa lalumu hingga hubunganmu dengannya, membuatku semakin putus asa setiap harinya. Tapi satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali aku masih bisa bersabar, aku masih ingin berjuang demi mimpi indahku pulang ke alamat yang sama di masa depan denganmu. Sampai akhirnya perdebatan ini hampir menaungi kita setiap malam. Bahkan, terkadang sampai aku menunggu kau menghubungiku namun kau tak menghubungiku, ternyata sudah ada yang kau hubungi dan kau kabari. Aku masih bisa sabar kala itu, entah kenapa aku berpikir hubungan ini masih bisa diperbaiki dengan lebih banyak lagi perjuangan. Banyak orang bilang “Cinta itu tak kenal logika”. Memang benar, waktu itu aku benar-benar sakit ketika aku tau kau tak lagi memprioritaskan aku. Sosial mediamu selalu online, namun tak ada satu pesanpun darimu, bahkan pesanku tak kunjung kau balas tetapi kau bisa bercakap panjang dengannya. Hingga akhirnya aku bertanya mana yang lebih kau pilih aku atau dia, kau memang lebih memilihku dengan semua janji-janjimu, namun entah kenapa selalu ada alasan darimu. Maaf, memang tak seharusnya aku mempertanyakan itu.

Hari itu aku tidak bisa menerima semuanya, bahkan orang terdekatku mengatakan lebih baik aku berpisah denganmu. Teman-temanku selalu meyakinkan aku, kelak aku berhak dapat yang lebih baik darimu. “Buat apa berjuang sendirian ? Sudah jelas dia masih belum lepas dari masa lalunya” hingga “Dia bilang sayang ke kamu dikit aja langsung senang, bentar lagi juga balik ke mantannya lagi” begitu kata teman-temanku. Kalimat itu seolah menamparku dan merubah pola pikirku, menyadarkanku akan kehidupan yang sebenarnya, untuk apa aku berjuang sendirian, aku sadar selama ini aku terlalu berharap pada hubungan yang tidak sehat ini. Jika aku tidak terlalu berharap, mungkin kita tidak sejauh ini.


Kau sendiri yang memintaku untuk jangan pergi, tapi kau sendiri yang berkata terima kasih untuk semuanya.


Kali ini aku sadar, aku masih punya banyak impian yang bisa kukejar. Daripada aku bertahan pada wanita yang tidak pernah menghargai perjuanganku, aku lebih merelakanmu pergi. Kali ini aku ikhlas. Silahkan pergi sejauh yang kau mau, dengan siapapun yang kau suka, kau berhak mendapat lelaki yang jauh lebih baik dariku, carilah kebahagiaanmu. Terima kasih telah menemani beberapa bulan ini, kau tetap memiliki tempat di hatiku. Namun jika kau ingin kembali padaku, maaf aku lebih memilih untuk tidak. Berjuanglah bersamanya, kejar kebahagiaanmu.


Selamat tinggal, kamu yang dulu selalu aku perjuangkan. Kali ini aku mengikhlaskanmu untuk pergi.


Dariku
Lelaki yang dulu selalu memperjuangkanmu.

Ditulis Oleh : Krisna Adji S. ~ Tutorials, Game, Blogging, Information

RegiBrader Sobat sedang membaca artikel tentang Untukmu yang membiarkanku berjuang sendiri, kali ini ku ikhlaskan. Silahkan Pergi.. Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya. Saling menghargai kreatifitas sobat Blogger.

:: Get this widget ! ::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar